Dalam
diskusi – diskusi terbaru mengenai kualitas seluruh personil sekolah,
menyebutkan bahwa tugas konselor sekolah (Guru BK) sangatlah dominan. Konselor
sekolah dituntut untuk dapat menjalankan peran – peran ke – SDM - an dengan
maksimal. Melihat besarnya manfaat dan peran konselor sekolah, maka saya sekali
lagi menegaskan bahwa konselor sekolah bukanlah polisi sekolah namun personalia
sekolah. Dari pengalaman saya ketika observasi kesekolah dan langsung
mewawancarai seorang guru BK, yang dikatakannya bahwa seorang konselor sekolah
dituntut untuk lebih dari sekadar menangani siswa yang bermasalah, juga harus
berani dan bias meng-handle guru-guru yang bermasalah. Tak jarang masalah -
masalah yang timbul di sekolah diakibatkan dari pihak gurunya, bukan siswanya.
Bukankah kualitas siswa juga sebagian besar ditentukan oleh kualitas guru.
Semakin berkualitas guru-guru di sekolah, maka kemungkinan besar akan
meningkatkan kualitas siswanya. Oleh karenaitu, di setiap sekolah dan lembaga
pendidikan wajib ada konselor sekolahnya.Di Amerika misalnya, konselor sekolah
sudah ada sejak di level pre-school, children kinder garten dan elementary
school (Playgroup, TK dan SD).
Segitiga
personil yang melingkupi siswa adalah siswanya sendiri, guru, dan orang tua dan
masyarakat. Pertama, sekolah perlu membuat system pengembangan diri bagi siswa
seperti yang saya terangkan diatas. Mengaca dari criteria keberhasilan diatas,
kita dapat menggunakan berbagai program dan metode penyampaiannya. Pelatihan,
seminar, diskusi, klub atau ekskul, praktek di organisasi sekolah (IRM atau
OSIS), maupun bimbingan dan konseling ketika ada masalah yang timbul di tengah
proses pembelajaran di sekolah. Kedua, mencetak dan memfasilitasi guru-guru
agar lebih berkualitas dari hari kehari. Tak hanya siswa yang perlu dibuatkan
kurikulum, ternyata guru-guru juga perlu dibuatkan kurikulum. Ketiga, keluarga
yang mendukung dan harmonis. Tak bias disangkal bahwa keluarga yang harmonis
memberikan dampak 99% bagi kualitas akademis dan prestasi siswa di sekolah.
Beberapa data menyebutkan, siswa-siswa yang berprestasi sangat rendah dan
bermasalah di sekolah adalah berasal dari keluarga yang kurang harmonis alias
bermasalah. Di sini peran konselor sangat dibutuhkan untuk membantu menciptakan
lingkungan rumah yang harmonis dan nyaman bagi siswa. Mungkin mirip acara Mommy
911-nya Metro TV yang mana seorang konselor akan dating kerumah dan menjalankan
misi perbaikan dengan cara – cara professional layaknya seorang psikolog. Bagi
sekolah - sekolah non belajar dan psikologis siswa. Beberapa sekolah
menjembatani komunikasi antara sekolah dengan orang tua dengan membentuk
semacam forum komunikasi sekolah dengan keluarga, “Ikatan Orang tua Siswa”.
Konselor tugasnya memfasilitasi dialog dari dan ke orang tua. Bisa berbentuk
seminar, dialog, kunjungan kerumah, brosur untuk orang tua. Keempat,
menciptakan masyarakat yang islami. Untuk mencetak masyarakat yang lebih cerdas
dan tinggi tingkat spiritualitasnya, siswa-siswa kita diharapkan boarding
(tidak berasrama), waktu siswa di Sekolah ternyata lebih banyak dari
pada di rumah. Maka, kondisi rumah yang berantakan dan orang tua yang sering
bertengkar jelasakan mempengaruhi mood mampu menjadi aktor di lingkungan mereka
sehari-hari. Disana siswa-siswa kita mendapatkan tantangan yang sesungguhnya.
Sebenarnya, tugas sekolah adalah mempersiapkan agar siswa-siswanya agar mampu
berkiprah dan memberikan manfaat sebesar-besarnya ketika selesai dari sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar